{"id":1659,"date":"2022-07-29T15:11:42","date_gmt":"2022-07-29T15:11:42","guid":{"rendered":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/?p=1659"},"modified":"2022-07-29T15:15:50","modified_gmt":"2022-07-29T15:15:50","slug":"menapak-tilas-jejak-terakhir-pangeran-sambernyawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/?p=1659","title":{"rendered":"Menapak Tilas Jejak Pangeran Sambernyawa"},"content":{"rendered":"<p>Astana Mangadeg terletak di Desa Karang Bangun Kecamatan Matesih merupakan komplek makam raja \u2013 raja dari istana Mangkunegaran, Surakarta. Raja \u2013 raja Mangkunegaran yang dimakamkan di astana Mangadeg adalah Raja Mangkunegara I atau Pangeran Samber Nyawa dan lebih dikenal dengan nama Raden Mas Said yang memiliki kesaktian luar biasa dan sangat gigih melawan penjajah Belanda,selain itu terdapat makam Raja Mangkunegara II, III, serta kerabat \u2013 kerabatnya.<\/p>\n<p>Sekilas Sejarah tentang Kanjeng Pangeran Sambernyawa<\/p>\n<p>Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said (lahir di Kraton Kartasura, 7 April 1725, meninggal di Surakarta, 28 Desember 1795\u00a0 pada umur 70 tahun) adalah pendiri Praja , sebuah kadipaten agung di wilayah Jawa Tengah bagian timur, dan Pahlawan Nasional Indonesia.<\/p>\n<p>Ayahnya bernama Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura dan ibunya bernama R.A. Wulan.<\/p>\n<p>Julukan Pangeran Sambernyawa diberikan oleh Nicolaas Hartingh, gubernur VOC, karena di dalam peperangan RM. Said selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya.<\/p>\n<p>Ia menikah dengan seorang wanita petani bernama Rubiyah, yang terkenal dengan julukannya &#8220;Matah Ati&#8221;<\/p>\n<p>Beliau ini yang memimpin Sebanyak 144 di antara prajuritnya adalah wanita, terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabijn (senapan ringan), satu peleton bersenjata penuh, dan satu peleton kavaleri (pasukan berkuda).<\/p>\n<figure id=\"attachment_1662\" aria-describedby=\"caption-attachment-1662\" style=\"width: 726px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1662\" src=\"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/astana-mangadeg-1-1.jpg\" alt=\"\" width=\"726\" height=\"484\" srcset=\"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/astana-mangadeg-1-1.jpg 1100w, https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/astana-mangadeg-1-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/astana-mangadeg-1-1-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/astana-mangadeg-1-1-768x512.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 726px) 100vw, 726px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1662\" class=\"wp-caption-text\">Astana Mangadeg<\/figcaption><\/figure>\n<p>Mangkunegoro tercatat sebagai raja Jawa yang pertama melibatkan wanita di dalam angkatan perang. Prajurit wanita itu bahkan sudah diikutkan dalam pertempuran, ketika ia memberontak melawan Sunan, Sultan dan VOC. Selama 16 tahun berperang, Mangkunegara mengajari wanita desa mengangkat senjata dan menunggang kuda di medan perang. Ia menugaskan sekretaris wanita mencatat kejadian di peperangan.<\/p>\n<p>RM Said berperang sepanjang 16 tahun melawan kekuasaan Mataram dan Belanda. Selama tahun 1741-1742, ia memimpin laskar Tionghoa melawan Belanda. Kemudian bergabung dengan Pangeran Mangkubumi\u00a0 selama sembilan tahun melawan Mataram dan Belanda, 1743-1752.<\/p>\n<p>Perjanjian Giyanti\u00a0 pada 13 Februari 1755,\u00a0 sebagai hasil rekayasa Belanda berhasil membelah bumi Mataram menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta, merupakan perjanjian yang sangat ditentang oleh RM Said karena bersifat memecah belah rakyat Mataram.<\/p>\n<p>Selanjutnya, ia berjuang sendirian memimpin pasukan melawan dua kerajaan Pakubuwono III &amp; Hamengkubuwono I (yaitu P. Mangkubumi,Pamannya sekaligus mertua Beliau yang dianggapnya berkhianat dan dirajakan oleh VOC), serta pasukan Kumpeni (VOC)\u00a0 pada tahun 1752-1757. Selama kurun waktu 16 tahun, pasukan Mangkoenagoro melakukan pertempuran sebanyak 250 kali.<\/p>\n<p>Dalam membina kesatuan bala tentaranya, Said memiliki motto tiji tib\u00e8h, yang merupakan kependekan dari mati siji, mati kab\u00e8h; mukti siji, mukti kab\u00e8h (gugur satu, gugur semua; sejahtera satu, sejahtera semua). Dengan motto ini, rasa kebersamaan pasukannya terjaga.<\/p>\n<p>Tiga pertempuran dahsyat terjadi pada periode 1752-1757.Ia dikenal sebagai panglima perang yang berhasil membina pasukan yang militan. Dari sinilah ia dijuluki \u201cPangeran Sambernyawa\u201d, karena dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai penyebar maut.<\/p>\n<p>Kehebatan Mangkunegoro dalam strategi perang bukan hanya dipuji pengikutnya melainkan juga disegani lawannya. Tak kurang dari Gubernur Direktur Jawa, Baron van Hohendorff, yang berkuasa ketika itu, memuji kehebatan Mangkunegoro.<\/p>\n<p>\u201cPangeran yang satu ini sudah sejak mudanya terbiasa dengan perang dan menghadapi kesulitan. Sehingga tidak mau bergabung dengan Belanda dan keterampilan perangnya diperoleh selama pengembaraan di daerah pedalaman.<\/p>\n<p>Yang pertama, pasukan Said bertempur melawan pasukan Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I)<\/p>\n<p>di desa Kasatriyan, barat daya kota Ponorogo, Jawa Timur. Perang itu terjadi pada hari Jumat Kliwon, tanggal 16 Syawal \u201ctahun Je\u201d 1678 (Jawa) atau 1752 Masehi. Desa Kasatriyan merupakan benteng pertahanan Said setelah berhasil menguasai daerah Madiun, Magetan dan Ponorogo.<\/p>\n<p>Yang kedua, Mangkoenagoro bertempur melawan dua detasemen VOC dengan komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman<\/p>\n<p>di sebelah selatan negeri Rembang, tepatnya di hutan Sitakepyak Sultan mengirim pasukan dalam jumlah besar untuk menghancurkan pertahanan Mangkunegoro.<\/p>\n<p>Besarnya pasukan Sultan itu dilukiskan Mangkunegoro \u201cbagaikan semut yang berjalan beriringan tiada putus\u201d. Kendati jumlah pasukan Mangkunegoro itu kecil, ia dapat memukul mundur musuhnya. Ia mengklaim cuma kehilangan 3 prajurit tewas dan 29 menderita luka. Di pihak lawan sekitar 600 prajurit tewas.<\/p>\n<p>Perang besar yang kedua pecah di hutan Sitakepyak, sebelah selatan Rembang, yang berbatasan dengan Blora, Jawa Tengah (Senin Pahing, 17 Sura, tahun Wawu 1681 J \/ 1756 M).Pada pertempuran ini, Mangkunegoro berhasil menebas kepala kapten Van der Pol dengan tangan kirinya dan diserahkan kepada salah satu istrinya sebagai hadiah perkawinan.<\/p>\n<p>Yang ketiga, penyerbuan benteng Vredeburg Belanda dan keraton Yogya-Mataram (Kamis 3 Sapar, tahun Jumakir 1682 J \/ 1757 M).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Astana Mangadeg terletak di Desa Karang Bangun Kecamatan Matesih merupakan komplek makam raja \u2013 raja dari istana Mangkunegaran, Surakarta. Raja \u2013 raja Mangkunegaran yang dimakamkan di astana Mangadeg adalah Raja Mangkunegara I atau Pangeran Samber Nyawa dan lebih dikenal dengan nama Raden Mas Said yang memiliki kesaktian luar biasa dan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1660,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[],"class_list":["post-1659","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sejarah",""],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1659","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1659"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1659\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1665,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1659\/revisions\/1665"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1660"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1659"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1659"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1659"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}