{"id":803,"date":"2021-09-23T15:20:16","date_gmt":"2021-09-23T15:20:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/?p=803"},"modified":"2021-09-24T14:33:15","modified_gmt":"2021-09-24T14:33:15","slug":"mitos-pantangan-duduk-di-depan-pintu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/?p=803","title":{"rendered":"Mitos Pantangan Duduk di Depan Pintu"},"content":{"rendered":"<p>Larangan duduk atau berdiri di depan pintu sangat populer di tengah masyarakat. \u201cJangan duduk di depan pintu, nanti susah dapat jodoh!\u201d atau \u201cJangan berdiri di depan pintu, nanti rezeki jadi seret!\u201d<\/p>\n<p>Ada juga larangan duduk menghalangi pintu pada ibu hamil. Sebagian besar mengatakan bahwa, dengan duduk menghalangi pintu, seorang ibu hamil akan kesulitan dalam proses kelahiran bayinya. Akibatnya persalinan pun akan lebih lama.<\/p>\n<p>Bahkan ada yang melarang duduk di depan pintu karena mengganggu makhluk halus yang sedang melewati pintu tersebut. Pelanggar pantangan ini konon bisa mengalami sakit akibat teguran dari si makhluk halus.<\/p>\n<p>Selintas, tak ada hubungannya antara duduk atau berdiri di depan pintu dengan jodoh atau rezeki. Mungkin kalimat tersebut terlahir dari pengalaman hidup yang dilalui oleh para orang-orang tua di zaman dulu.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-819 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/wayng-too-1-210x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"210\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/wayng-too-1-210x300.jpeg 210w, https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/wayng-too-1.jpeg 709w\" sizes=\"auto, (max-width: 210px) 100vw, 210px\" \/><\/p>\n<p>Mitos pantangan ini biasanya diperuntukkan bagi seorang gadis. Hal ini dilakukan untuk menakut-nakuti atau mencegah agar sang gadis tidak duduk di depan pintu rumahnya.<\/p>\n<p>Pantangan ini muncul karena pada zaman dulu ada kebiasaan para wanita yang suka mencari kutu atau melakukan tradisi Nginang dengan cara duduk berjejer di depan pintu. Kebiasaan itu berlangsung turun temurun, sehingga warga yang merasa terganggu lalu membuat larangan ini.<\/p>\n<p>Dari beragam mitos itu, ada beberapa penjelasan yang ternyata bisa dinalar.Pertama, seorang gadis dilarang duduk di depan pintu karena akan menghalang-halangi orang yang akan keluar masuk rumah, termasuk tamu yang akan melamar sang gadis.Kedua, Berdiri atau duduk di depan pintu adalah perbuatan yang bisa menyulitkan orang lain yang akan masuk dan keluar melalui pintu tersebut.<\/p>\n<p>Ketiga, bagi ibu hamil, larangan duduk di depan pintu ternyata ada alasannya. Duduk di depan pintu akan memperbesar potensi ibu hamil untuk terpapar penyakit yang ditularkan melalui udara, atau yang biasa dikenal dengan airborne disease. Pintu yang terbuka akan mendukung penyebaran virus airborne disease seperti flu. Ingat, hamil adalah saat daya tahan ibu sedang berada pada posisi terendahnya, sehingga membuat ibu akan rentan terinfeksi penyakit termasuk flu.<\/p>\n<p>Keempat, dari sisi kesehatan, duduk menghalangi pintu juga berpotensi membuat masuk angin.<\/p>\n<p>Kelima, dari sisi agama, Nabi Muhammad pernah bersabda, &#8220;Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta\u2019ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.&#8221; (HR. Muslim). Dengan duduk-duduk di depan pintu, akan mempersulit lalu lalang banyak orang. Maka lebih baik tidak duduk di depan pintu agar tidak mengganggu orang lain, dan urusan kita juga dipermudah olehNya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Larangan duduk atau berdiri di depan pintu sangat populer di tengah masyarakat. \u201cJangan duduk di depan pintu, nanti susah dapat jodoh!\u201d atau \u201cJangan berdiri di depan pintu, nanti rezeki jadi seret!\u201d Ada juga larangan duduk menghalangi pintu pada ibu hamil. Sebagian besar mengatakan bahwa, dengan duduk menghalangi pintu, seorang ibu<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":805,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[],"class_list":["post-803","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pitutur",""],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/803","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=803"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/803\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":821,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/803\/revisions\/821"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/805"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=803"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=803"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.nuansasupranatural.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=803"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}